Jejak Peninggalan Kerajaan Majapahit di Jember

Situs Beteng yang terletak di Dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember, merupakan salah satu peninggalan yang diduga berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Beteng merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa Jawa, artinya benteng. Di Situs Beteng, terdapat beberapa benda kuno, seperti batu bata berukuran besar yang berasal dari zaman kerajaan. Terdapat peninggalan sejarah lain yang ditempatkan di ruang khusus, seperti artefak berbahan tera kota dan keramik yang sudah tidak berbentuk lagi. Lalu, ada batu dakon dengan alu yang diperkirakan sebagai alat untuk membuat ramuan obat-obatan, mata uang kepeng, senjata dan lainnya. Situs Beteng berjarak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Jember. Situs itu bisa ditempuh sekitar 60 menit. Situs ini sudah dipugar, dikelilingi oleh pagar. Di dalamnya juga terdapat gapura, bahkan, halaman situs cukup luas. Tempat ini kerap dijadikan lokasi perayaan tradisional serta tempat pertunjukan seni tradisional. Di halaman situs, tampak Ngabdul Gani sedang duduk sendiri. Dia merupakan juru pelihara Situs Beteng yang setia menjaga dan merawat situs ini sampai sekarang.

Situs Beteng Boto Mulyo di Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro, Kabupaten Jember Jawa Timur diduga cikal bakal berdirinya Kerajaan Blambangan awal.

Arkrogis tersebut dapat direkasikan dengan apa yang tersurat dalam sumber data teadisi (babad) tentang kerajaan Blambangan. Jejak sejarah dan arkeologis, khususnya di Dusun Beteng” dan di dua desa tetangganya, mengarah kepada artefak dari Masa Hindu-Buddha dan awal perkembangan Islam.

Hal itu jadi petunjuk bahwa kesejarahan di Semboro dan sekitarnya berlajut dari zaman Prasejarah ke Masa Hindu Buddha, yang sezaman dengan Masa Akhir Majapahit (XV-XVI Massehi). Kata  arkeolig UN Malang M Dwi Cahyono di seminar Situs Beteng Majapait, di Kantor Desa Sidomekar bersama pembicara lain yaitu  Pendiri Musium Puger, Y Styohadi, Forum Kumunitas Barata Sabto Prabu Zainuel Ahmad, dan Kepala Desa Sidomekar Ir Sugeng Priyadi

Dalamn kaitan itu, tentulah tak jauh dari Situs Beteng  terdapat bangunan keagamaan semisal candi. Kemungkin arti yang demikian pada paparan berikut akan dipergunakan untuk menelisik tinggalan arkeologi yang tersisa dan berhasil dijumpai di wilayah Semboro dan sekitarnya.

Paling tidak terdapat tiga areal di Semboro dan sekitarnya dijumpai jejak arkeologis dan disebut dalam sumber data hustoris, yaitu (1) Situs Beteng di Desa Sidomekar,  Semboro, (2) Situs Kutho Dawung di Dusun Kutho Dawung (kini masuk Dusun Karangrejo, kini menjadi “Kuthoharjo”,) Desa Paleran Kecamatan Umbulsari, dan (3) Situs Penggungan Desa Klatakan Kecamatan Tanggul.

Meski berbeda desa dan kecamatan, namun desa-desa dimana situs-situs itu berada adalah desa-desa yang bertetangga, dengan radiius kurang dari 2 Km. Situs Kutho Dawung misalnya, hanya dipisakan oleh persawahan sejauh 1,5 sd 2 km dari Situs Beteng, yang berada di sebelah Barat Daya-nya.

Sementara Situs Candi sekitar Daerah Semboro,  Situs Candi Sukoreno berada di Dusun Krajan Lor Desa Sukoreno Kecamatan Umbulsari. Jarak dengan Situs Benteng sekitar 7 Km. Temuan yang didapati berupa dua buah arca (sejak tahun 1990an raib), stuktur bata kono, lumpang batu, dsb.

Disamping situs candi ini, terdapat reruntuhan candi cukup besar, yakni Candi Deres di Dukuh Deres di Kecanatan Gumukmas, yang berada di tanah menggunduk (gumuk) di tengah persawahan. Jarak Candi Deres dangan Situs Beteng sekutar 15 Km ke arah selatan.

Jejak candi juga didapati di Desa Gunungsari Kecanatan Umbursari, sekitar 5 Km dari Situs Beteng. Pada situs pernah ditemukan beberapa arca batu (sekarang raib), bata-bata kuno, dsb. Ada berita bahwa di Situs beteng pernah terdapat arca Siwa (belum jelas akyrasinya), yang pada tahun 1968 di buang ke Subgai Menampu.

Ada pula kabar bahwa di areal PG Sembiro juga pernah diketemukan arca batu. Hal ini kian mempetkuat bahwa di Semboro dan sekutarnya pernah terdapat tempat-tempat peribadatan dari Masa Hundu-Buddha, pada nama warga Semboro di masa lampau berderma ubtuk pelajsaan upacara keagamaan padanya.

Salah satu sumber data tekstual dengan kesejarahan Sembar-Kesawung adalah “Babad Sembar”, yang naskahnya diedisikan oleh Winarsih Partaningrat Arifin (1995). Susastra yang berbentuk “babad” ini disurat oleh Patih Prabalingga pada tahun 1800-an. Pada telaah ini data tekstual pada Babad Sembar yang dijadikan bahan eksplorasi adalah Pupuh Dandhang Gulo, yang terdiri atas 11 bait.

Nama “Sembar” sebagai sebutan bagi susastra ini duambil dari sebutann salah seorang tokoh yang disebut di dalamnya, yaitu “Mas Sembar”, yakni salah seorang anak dari Lembu Miruda. Adiknya yang sangat cantik bernama “Mas Ayu Singasari” (bait ke-3). Adapun Lembu Miruda adalah putra Brawijaya dari Majapahit.

Setelah Majapahit mengalami keruntuhan (rusake Majalengka), ia mengungsi ke timur, masuk hutan, mendaki gunung, dan sampai di hutan wilayah Blambangan (bait ke-1). Kemudian tiba di Batu Putih (Watu Putih) dan mendirikan asrama. Ia memohon kepada Hyang Agung agar dikaruniai keturunan yang bakal menjadi raja-raja di Jawi Wetan (bait ke-2).

Pada siri teks tersebut, meski tokoh yang disebut pertama adalah Lembu Amuruda, namun yang dijadikan sebagai judul naskah adalah “Mas Sembar”, yang pada baris terkhir bait ke-3 dinyatakan “menhadi raja di Blambangan (ditulis “Blangbangan”), berkuasa di timur (nyanrawati ing wetan).  “Tergambar bahwa yang diposisikan sabagai cikal-bakal (vamsakreta, vamsakara) dari raja-raja di Blambangan adalah Mas Sembar, bukan ayahnya (Lembu Amiruda)”. Urainya.

Dalam teks ini, Amuruda lebih digambarkan sebagai seorang rokhaniawan yang tinggal di srama (asrama) Batu Putih. Kerajaan padamana Mas Sembar mengawali kekuasaan Kerajasn Blambangan adalah di sebelah timur lokasi srama Amiruda, yang bisa jadi di lereng gunung Tengger-Semeru.

Nama “Batu Putih” mengingatkan kita kepada nama “rabut macan prthak (bukit macan putih)” yang disebut dalam salah satu prasasti pendek (short inscription) di Pasrujambe dalam wiilayah Kabupaaten Lumajang pada lereng selatan Semeru.

Boleh jadi, srama Watu Petak itu berada di dalam hutan (wanasrama) Pasrujambe, yang di dalam babad ini dinyatakan sebagai “wana Blambangan”. Adapun lokasi dari Kerajaan Blambangan yang didirikan kali pertama oleh Mas Sembar berada di sebelah timur dari srama Watu Putih, yang berati di selah timur Lumajang.

Dimana lokasi ibukota kerajaan Blambangan mula itu? Indikatornya unsur nama “Sembar” dan “Mas Sembar”. Nama dibelakang honirifix prefix “Mas” itu bakanlah nana diri, melaikakan nama tempat yang menjadi daerah lungguh (apabage)-nya. “Jadi, Sembar adalah nama tempat apanage-nta “Bandingkan juga dengan unsur nama Singosari dari sebutan “Mas Ayu Singosari”, yakni adiknya. Nenilik kedejatan namanya”, katanya.

Sangatlahlah mungkin tanah lungguh Sembar adalah di wilayah Semboro sekarang, dimana nama kuno (archauc nane) dari apa yang kini dinanai “Semibiro” adakah “Sambara” atau “Sanbhara”, dengan gejala bahasa berupa pergantian vokal “o” dan dalam istilah Jawa Baru dengan vokal “a” dalam bahasa Jawa Kuna, yaitu dari “SebOrO” menjadi “SanbArA”. Gejala bahasa berikytnya adalah pelesapan vokal “a” diujung kata, yakni dari “SembarA” menjadi “Sembar (tanpa vokal “a”).

“Bila benar demikian, maka ibukota (kadatwan, kedaton) Blambangan di era pemerintahan raja Mas Sembar adalah di daerah Semoboro, bukan di Puger sebagaimana pendapat yang sejauh ini dilansir Dengan perkataan lain, Semboro adalah lokasi “Blambagan Mula”, jelasnya.

Tinggalan arkeoligis di Situs Beteng di Desa Sudomekar (sebelum tahun 1989 masuk wilayah Desa Semboro) amat mungkin sebagian berasal dari kerajaan. Blambangan Mula di era pemerintahan Mas Sembar itu — menurut versi “Babad Sembar”. Semboro adalah daerah yang berada di sebelah timur Lumajang (konon disebut “Lamajang”) yang merupakan daerah keberadaan wabasrama ayahnya (Lembu Miruda).

Pilihan lokasi kadathan Blambangan Mula di Semboro (Sambara, Sambhara) adalah: (a) kedekatan jaraknya dengan Lamajang, (b) bertanah subur — lantaran berada di lembah Gunung Argopuro (Hyang) — dan berkecupan air, sehingga potensial untuk perekonomian agraris , (c) topografinya rata (flat), (d) telah terdapat sistem sisial-budaya yang rekatif teratur, sebab Semboro telah menjadi hunian manusia sejak Masa Bercocok Tanam di Zaman Prasejarah, terbukti adanya temuan beberapa kapak tradisi Neolitik.

Ada kemungkinan, pada masa pemerintahan putra bungsunya, yang menurut “Babad Sembar” (bait ke,-4) bernama “Bima Koncar (sumber data lain menyebut “Minak Koncar”), kadatwan direlikasi ke Lamajang. Apabila benar tetjadi relokadi, ada kemukinan di Sembara ditempatkan saudaranya, yaitu Gede Puner Cinde Amih atau Bimanabrang Wijaya sebagai penguasa vasal (nagari, kerjaan bawahan) Vasal Blambangan.

Demikian, tatkala Blambangan diperintah okeh putra sulung dari Bima Koncar, yakni Menak Pentor”, kadarwan Blambangan masih berkadatwan di Lamajang. Ketika perintahan Menak Pentor inilah, kerajaan Blambangan tengah mencapai “Masa Keemasan (Golden Petiode)”.

Menurut catatan Tome Pires dalam “The Duma Orental” (1528 Masehi), Blambangan di era penerintahan “Pate Pintor (trabslur dalam bahasa Pirtugis untuk “Menak Pentor” dalam sebutan “Babad Sembar”) berhasil merebut Gamda (SO. Robson menyatakan sebagai penulusan yang salah dari seharusnya “Garuda”, dilokasikan di daerag Pasuruan sekarang, bisa jadi antara Rembang-Bangil), Pajarakan hingga Panarukan fi Pantura Jawa, yang dikuasaunya kisaranbtahun 1505-1513 Masehi).

Selain itu, Bambangan juga berkuasa di Prabalingga, Cijtan (?) dan tentu Lamajang sendiri. Kekuasaan Blambangan juga necakup Prasada (mungkin dmsama dengan Depresda yang tertera pada oeta Kompeni tahun 1600-an, dekat Bajulmati di Baluran) dan daerah Babadan (?), yang dikuasai oleh adiknya,

Yaitu Nenak Gadru. Saun itu, kekyasaan Blambangan meliputi juga Candi Bang (mungkin menujuk kepada Candi Jabung dari bata merah di Sajabung), yang diperintahboleh adiknya yang lain, yaitu Menak Cucu. Terganbar bahwa daerah-aerah di Pantura Jawa berhasil dikuasai Blambanfan

Jika tahun 1505-1513 Masehi, yakni ketika Blanbangan di bawah pemerintahan Menak Pentor (Pate Pintor) menguasai daerah Gamda, Pajarakan hingga Panarukan, ada kemungkinan pemerintahan kakeknya, yaitu Mas Sembar, yang berharak dua generasi, diprakirakan setekah tahun 1478 namun sebelum tahun 1505-1513.

“Dengan perkiraan satu generasi pemerintahan antara 15-30 tahun, berarti era pemerintahan Mas Sembar di Sambara adalah tahun 1480-1490 Maseni, atau pada permulaan dinasti Girindrvarddhna di Kerajaan Majapahit”, ulasnya.

Raja Blambangan pengganti Menak Pentor adalah Menak Pengseng, yang boleh jadi kala itu kadatwan Blambangan masih di Lamajang. Putra sulungnya, yang kelugus putra mahkota, bernama Menak Pati Dalam certa Bali, ia disebut “Sri Juru”, yang ditewaskan oleh Dalem Watu Renggong.

Kesempatan adanta “vakum suksesi” pada pemerintahan pusat Blambangan di Lamajang itu dimanfaatkan anak Menak Gadru yaitu Menak Lampor untuk mengambil alih tahta. Hal ini dipucu oleh sebab Denak dibawah peneruntahan Sultan Tranggono untuk mengusai daerah-daerah Panyra Jawa pada kawasan Tapal Kuda. pada rahun 1531, Panarukan jatuh dalam serangan Demak.

Ada kemungkinan, pengambil alihan kekuasaan pada pemerintahan itu berlangsung pada sekitar tahun 1531 Masehi. Demikianlah, semenjak itu pemerintahan pusat Blambangan di Lamajang beralih dari garis keturunan Menak Pentor ke keturunan Menak Gadru. Nantinya, takta dioperkan oleh Menak Lampir ke putranya, yaitu Menak Lumpat (disebut juga “Panferan Singasari”).

Nampaknya, setelah ditinggalkan oleh Menak Lampor yang semula berkuasa di Pabarun ke Lamajang, posisinya digantikan oleh sanak keluarga Blambangan yang lain, hingga pada akhirnya dikuasai oleh tokoh yang di dalam tulusan C. Leckerkerker yang kutip oleh H.J. de Graff (1989) diseut “Cariaen’.

Sebutan ini boleh jadi adalah jabatannya, yang dalam bahasa Jawa Kuna dan Jawa Tengahan disebut “Rakryan” atau disingkat dengan “Kryan” atau “Kiyen” dalam translir Cina, yang menujuk kepada penguasa warak (watek). Menurut Winarsih (1995:312), Kiyen Berkuasa di Kedawung. Namun belum dapat dipastikan bilamana mula berkasanya.

Lokasi kedaton Kedawung hanya berjarak sekitar 1,5 Km di sebalah barat-laut Situs Beteng, yang tiada lain adalah Kedaton Blambangan di Sembara yang didirikan oleh Mas Sembar. Ada kungkinan, Kiyen adalah anggota kekuarga Blambangan, yang berketurunan jauh demgan Mas Sembar, yakni generasi ke-4 (cicit).

Berkat hubungan baiknya, Kerajaan Gegel di Bali, seolah menjadi “pendung” terhadap Kriyan. Kerajaan Kedawung yang semula hanya vasal Bkambangan lantas mempunyai wilayah kekuasan yang luas, hingga ke Panarukan di Patura Jawa, dengan jalan membunuh ibu suri, yakni janda Santaguna.

Kompeni Belanda pun acap dibikin repot olehnya, dengan menerapkan “hak rawan karang” kepada orang-orang Belanda yang melakukan kegiatan dagang di Panarukan. Bahkan, pada puncaknya Kriyan deklarasikan diri sebagai raja Blambangan (Hal ini bagaikan ada “dua matahari” Blambangan.

Oleh karena itu, Menak Lumpat yang tengah berkuasa pada pemerintahan pusat Blambangan di Lamajang bertindak untuk ‘merebut payung (mengambil alih kejayaan)” atas Jerajaan Kedawung pada tahun 1633. Kriyan dapat diusir dari keratonnya. Dirinya bersama sanak keturunan dibinasakan.

Semenjak itu, Kedawung ditempatkan kembali di bawah panji Kerajaan Blambangan. Bahkan, kadatwan Blambangan direkokadikan ke Kekedawung. Pada tanggal 25 Mei 1633 raja Gelgel mentabuskan Menak Lumpat sebagai raja untuk seluruh daerah kekuasaan Blambangan. Seolah sejarah berulang, Blanbangan yang didirikan oleh Mas Sembar di Sanbara pada sekitar tahun 1480-1490an, stelah hampir 1,5 abad “balik pulang” ke Sambara.

“Tahun ini adalah penguasa daerah di Panarukan yang bernaung dibawah raja Blambangan yang kala itu dipegang oleh Menak Lumpat. Pada perempat pertama abad XVII terjadi lagi gelombang ekspansi kekuasaan ke Daerah Tapal Kuda”, pungkasnya. 

Jejak Peninggalan Raja Brawijaya V

Ngabdul Gani mengatakan situs ini merupakan peninggalan kerajaan pada masa raja Prabu Brawijaya V. Saat itu, Brawijaya V diserang oleh anaknya sendiri, yakni Raden Patah dari Kerajaan Demak. Benteng itu dibangun sebagai pertahanan atau tempat perlindungan Prabu Brawijaya V.   Penuturan Ngabdul Gani dibenarkan oleh Zainullah, sejarawan Jember yang menulis berbagai buku tentang sejarah Jember. Menurut dia, ketika Raden Patah menyerang, beberapa sisa pasukan Majapahit ada yang melarikan diri hingga ke daerah Semboro Jember. Di sana, mereka membuat benteng pertahanan yang cukup kuat dengan bahan batu bata besar.
Konon tempat itu juga digunakan sebagai mess para perwira atau tumenggung Kerajaan Majapahit. Hanya saja, kata dia, pergerakan Prabu Brawijaya V diketahui oleh telik sandi pasukan Raden Patah. Akhirnya, sisa pasukan Majapahit yang tinggal sedikit diserang pasukan Raden Patah hingga kalah. “Sebelum serangan itu datang, benteng dibangun, itu menurut cerita tutur,” papar penulis buku menelusuri jejak sejarah Jember kuno ini. Kemudian, bekas benteng ini diganti oleh masa Kerajaan Blambangan mula atau awal. Zainullah menilai banyak versi terkait kisah Prabu Brawijaya V di Jember. Terutama versi cerita tutur oleh warga sekitar, seperti juru pelihara. “Sejarahnya ini belum ada penelitian yang resmi, namun kebanyakan sejarawan mengaitkan dengan Kerajaan Majapahit,” terang dia. Menurut Zainullah, bukti arkeologis yang ditemukan di Situs Beteng menguatkan bahwa tempat itu merupakan peninggalan dari Kerajaan Majapahit. Belum ada penelitian resmi Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Jember Dhebora Krisnowati menambahkan, belum ada penelitian resmi yang dilakukan pihaknya terkait Situs Beteng. Dhebora yang baru menjabat sebagai plt kepala dinas itu menyebut, pada masa kepemimpinan sebelumnya juga belum ada penelitian secara resmi. “Mahasiswa yang sedang magang di sini, kami tugaskan untuk meneliti Situs Beteng,” kata dia.

Selain itu, pihaknya menggelar diskusi dengan sejumlah komunitas pegiat sejarah di Jember. Hasilnya, Situs Beteng itu memang berkaitan dengan sejarah akhir masa Kerajaan Majapahit dan awal Kerajaan Blambangan.

“Situs ini bisa dipastikan memang peninggalan kerajaan majapahit, dilihat dari batu batanya,” jelas dia. Jenis batu bata itu sama dengan yang ada di candi deres di Kecamatan Gumukmas. Menurut dia, situs peninggalan sejarah itu merupakan kekayaan kabupaten Jember. Untuk itu, dinas pariwisata dan budaya akan melakukan penelitian lebih lanjut untuk menelusuri sejarahnya. “Sejarah memang harus dibuktikan, tidak cukup dari katanya,” jelas dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here